Thursday, December 9, 2010

Pengais Mimpi




Bila kau sebut aku bintang
Tak pernah cukup sinar ku miliki tuk kupersembahkan

Aku pengais mimpi, yang menjelma kata inferior
Terus memikul puisi menjadi kisah paling sempurna.

Biar rindu tlah meletup-letup di ruas dada,
Biar kata tlah berderet-deret di ubun-ubun,
Namun nyata jarak lebih berkuasa..

Mari menanti,
Biru Laut sebagai kasih.



* menuju Latian Teater
Selasa, 4 Agustus 2009

Tinggal Bilang saja..

Bulan, kenapa dia harus marah, atau menuduhku cari masalah..
Padahal jika memang ada, atau pernah ada bidadari lain di hatinya dia tinggal bilang saja.
Padahal aku hanya butuh diyakinkannya..
Padahal makan malamku bermenu luka lama yang ditorehkannya juga,
yang meski ku tak pernah sanggup menahan perihnya, akupun tak pernah sanggup sungguh membenci pengukirnya...

Sajak Duka sang Singa


Kulihat airmata mengalir di sungai yg kering
Di tempat dimana singa menjelma raja,
Ia memejamkan mata dan bercucurlah nestapa..

Berjalanlah, dan seharusnya kau tak perlu menungguku lagi,
Beranjaklah bersama bintang yg telah kau susun rapi-rapi

Sekuntum cinta yg kau selipkan di urat nadi smakin membuatku sesak
menyaksikan luka yg kau kabarkan..

Beranjaklah,
sesungguhnya akulah pengukir lukamu..

Biar kubalut perihmu, lalu kau berhak menerima cinta yg menyehatkanmu..

Berbuah Buih


Tiga hari lalu berlusin-lusin rindu ku tumpuk
Menanti kata saat wajahmu tiba
Bertubi-tubi rindu menerjang, ku rendam
untuk bersabar

Namun sehari lalu telah kuputuskan tuk melangkah
ingin ku hapus semua jejak
yang pernah ku lukiskan dalam bisikmu
Bisik yang kau dendangkan hanya berbuah buih
Tak ku temukan sebagai hakikat janji

Pergilah..
Tak perlu lagi kau selipkan harap di sela bibir manismu
Biar, biar sesak melanda musimku
ku pilih jalanku tanpamu..



@kul Psikologi Kewirausahaan
14 Oktober 2009

Tanda Tanya Seharum Dupa

Ketika kata terbuka menjelma sapa
Aku tersenyum di antara sajak
mengintip langkah yg kau lukiskan

Hamparan bait yang kita songsong
adalah barisan tanda tanya seharum dupa
Setelah sebentar menitip salam
pada cerita masa lalu
Kita berangkat menyelami lautan kisah
yang hendak kita bagi

Namun akulah pelaut yg belum mampu mendepa
Pada dermaga mana pelayaran ini akan kita labuhkan


@Kuliah psikopatologi abnormal
30 Oktober 2009

Janji pada Hati


Berkali tanganmu yang menutup mimpi
mematah tiang layar yang kau pasang sendiri

Dan kini,
setelah jarak kau rentang segitu panjang
Aku berjanji pada hati
Takkan menahan kau pergi

Berlayarlah menuju pulau mana kau tuju
Aku adalah parasit yang tetap merindu
meski kau tak pernah perlu mencariku


Jakarta, 6 November 2009

Serupa magma


Menyimpan kata serupa magma
Begitu bergejolak hingga dadaku perih
Aku tutup lagi, biar kau yang menggali
namun kau terus mengukir jarak, seolah menuju bukit lain

Menit demi menit aku menoleh membaca harimu
Terus begitu, mengendapkan rindu serupa candu

Sementara aku kian lelah mendepa hatimu
Mengapa tak kabarkan saja seisimu
Biar ku tahu arah mana langkah ku tuju
menantimukah, atau segera berkemas mengubur namamu


*disela-sela belajar patologi sampai konstruksi tes
9-10 November 2009

Duri di Urat Nadi

Setelah kau penuhi kabinku dengan bias harap
Kau melenggang segitu jauh
menuju layar cantik yang kau agungkan
sebagai bunga sebagai mahkota

Sementara aku terkapar menyimpan duri
yang kau sisipkan di urat nadi

Ketika menantimu telah mengundang luka
Sajak mana yang dapat ku kisahkan
sebagai cinderamata berwarna kelabu


Jakarta, 17 November 2009

Kau Sebut Aku Apa, Tuhan?

Kau sebut aku apa, Tuhan?
Kuserahkan seluruh jalanku pada mau-Mu
Kurelakan berhariku diamuk rencana-Mu
tapi Kau pun sungguh tahu aku telah semakin terjatuh
Kau pun semestinya tahu,
aku adalah selembar kertas yang hampir habis menjadi abu

Kau sebut aku apa, Tuhan?
Aku mengais sudah pada sisa senyum yang kau persiapkan untukku
meski bertubi awan gelap Kau hadirkan
dan payung pun aku tak punya
Aku tetap percaya kuasa-Mu kan selamatkan nyawaku

Aku adalah musafir yang terkapar tapi tak jua dibiarkan mati
Menderap hati agar teguh meminta pada-Mu
Tapi Kau sebut aku apa, Tuhan?
Benarkah sebab aku terlalu nista
tuk Kau angkat dari jurang berduri ini?

Kau sebut aku apa, Tuhan..
Ingin ku teriakkan, aku menyerah sudah..


(catatan pada malam yang terlampau dingin)
25 November 2009

Sajak yang terlupa; Mantra Pemisah

Akibat flash disk kepenuhan, akhirnya aq bongkar-bongkar isinya... maksudnya milah milih mana yang bisa diapusin...
Ternyata aq pernah nulis puisi ini.. duh, bisa lupa...


------------------------------------------------------------------------------------------------
Mantra Pemisah



Perjalanan panjang ternyata mampu
menorehkan lebih banyak luka
Pada hati kita yang tak mampu melihat lagi
bagaimana kau dan aku saling menukar mimpi

kata adalah rentetan peristiwa yang kita proteskan melalui udara
kita teriakkan melalui bisu

dan kerasnya jiwa kita masing-masing,
ku yakini akan menjadi sebuah mantra pemisah
bagi hati kita yang pernah begitu menyatu..

lalu ku lepaskan saja bulir-bulir kenangan
menari-nari, menyedot isi kepalaku...
biar tak habis genang air mata,
ku simpan untuk bekal nanti malam bgitu ku merinduimu..



Jakarta, 2 Februari 2009

Bila Bulan Memangku Kisah Kita

Mimpi yang kita peluk
akankah menguap bersama langit yang kian memerah

Aku sesak diurai luka
pada bayang redup jalan
yang harus kutapaki tanpamu
Tapi duniaku memaksaku
tuk hapus semua jejak itu

Seandainya waktu memihakku
Seandainya bulan tetap memangku kisah kita
Bilakah bintang berpihak
pada cerita yang kita rajut seindah mutiara

Apa dapat dikata bila angkasa tak suka
Sedang aku hanyalah barisan kata,
cuma bisa menunggu dituliskan
Karena membujuk pun nyatanya bukan kuasaku



Jakarta, 7 Januari 2010

Sajak Gerimis

Gemetar tanganku menggoreskan catatan ini
Enggan sekali bercerita luka-luka yang bersemayam di hati
Sebab luka itu terlalu perih sebagai kisah

Kala sore menjadi senja yang mendung
Berharap jumpa mentari hanya serupa mimpi
Gerimis dan gerimis
Lalu hujan tak mau berdamai dengan petir
Petir menjadi duka yang getir

Ketika sulaman kata tak lagi mampu bercerita
Aku hanya gemetar


Jakarta, 29 Januari 2010

Puisi Tanpamu adalah Mati

Sejenak matikan rasa, aku sepi
Larik puisiku tanpa kisahmu adalah mati
Namun ufuk barat perintahkan ku pergi
Menjauh dari namamu yang terukir dalam tiap urat nadi

Mimpi-mimpi bersamamu telah ku petikan,
bersama hatiku yang hanya punya kamu
Kan kusimpan sebagai temanku habiskan senja
Pengobat pilu saat rindu tak terbendung waktu

Semestinya cahayamu tetap sinari hariku
Tak terbayang pahit jalan yang ku pilih tanpamu
Jalan yang mungkin tak termaafkan hatimu
Ku harap masih terselip di sana rasa yang pernah kita pelihara
Biar kata tak terucap
Walau nada tak mampu bersenandung
Aku percaya,
Hatimu tahu bagaimana aku mencintaimu


*sebuah catatan sebelum tidur
Jakarta, Februari 2010

Terkubur Mati

Telah terkubur tawa dalam amarahmu
Campakkan akal sehat demi dengki
yang kau rawat dalam hati
Serupa batu, keras membisu
Dan aku lelah memecahmu

Biar terkubur persahabatan penuh senyum
Dalam gelap gua hati, biar mati
Aku rela pergi


Jakarta, 4 Maret 2010

Lima centimeter di Depan Dahi

Perjalanan adalah kepenatan yang panjang
usaha melelahkan mencabut duri dari nadi
Mimpi adalah tanah kering yang pesimis
Ada buaya berebut mangsa dengan singa

Tapi tetap ku tapaki menit per menit
demi 5 cm di depan dahi
Aral melintang ku terjang
Duka nestapa ku tata menjadi permata

Lalu perjalanan adalah pepohon berbaris
naik-turun dan berbatu
Mimpi menjelma barisan sawah menguning
Kerbau yang bercengkrama bersama burung pipit


*terinspirasi dari sebuah Novel berjudul '5 cm'
Jakarta, 3 Juli 2010

Wajah Bulan

Kesunyian tersimpan pada dedaun yang mencumbu angin
Di tepian senja ini,
Menghitung barisan semut adalah caraku memecah waktu

Ku rangkai sepi bersama lautan beton terhampar di depan mata
ku coba singkirkan gundah yang menyelimuti batin
Membunuh sesak rindu untuk satu wajah bulan
yang menghantui mimpiku sejak hatiku merah jambu

Burung kecil melirikku ingin tahu,
Ku titipkan nafasku padanya
Lalu ku rebahkan tubuh
menyaksikan luas langit berwarna pualam
dan ku lihat satu awan masih membentuk wajahnya


Di sudut SMAN 77 Jakarta, 17 Juni 2010

Pada Kisah Rindu

Pada malam sedingin ini
Kita pernah membagi tangis membagi tawa
Memandang bintang di luas angkasa
Mencari arti pada masing-masing hati
hingga urat nadi pernah kita baca bersama

Pada kisah sejauh ini
Kita membawa hati juga janji
Cinta yang kita rasa adalah abadi dalam karya
Saling mengenggam jemari menjadi satu sampai kulit ari
Hingga lekat sepenuh muara

Pada rindu segigil ini
Aku menghitung kata juga rima
Yang pernah kita susun menjadi cerita
Hingga nafas kita begitu rekat begitu erat

Di jalan sesunyi ini
Aku berkisah pada malam
bahwa aku begitu mencintaimu...


*sepulang dari Pensi Anniversary Nafas Teater, jadi kangen TEZA
Jakarta, 24 Juli 2010

Terhadir dengan Indah

Seberkas sinar mentari muncul diam-diam di antara embun pagi
Begitulah caramu mulai menghangatkan hatiku
Memeluk mimpi-mimpi dan juga lalai yang mengikuti
Lalu bersama wajah senyummu kau angkat ku berdiri

Kau ajarkan aku makna kerlip sang bintang
Kau terjemahkan bisunya rembulan
Kau kenalkan bunyi dan sunyinya malam
Lalu kau bimbing hatiku agar tetap wujudkan cita kita

Semua telah mengajarkanku banyak hal
Tentang indahnya menyamakan langkah kita bersama
Tentang memberi arti pada tiap-tiap tapak kaki kita
Hingga senyummu lah yang tercermin pada wajahku

Terhatur Terima kasih sedalam hati..
Untuk orang tua yang ku cintai
Karena dari semangatmu lah, semua terhadir dengan indah..



Jakarta, 6 Agustus 2010

Asa Paling Dalam

Ku resapi lembutnya pasir pantai menyentuh kaki
Riak-riak ombak membawaku dalam kenangan tentang wajahmu
Detak jantungku bercerita pada laut, rasa ini menghangatkanku

Menginginkanmu disini adalah asa paling dalam di lubukku
Andai bulan pernah sanggup memeluk bintang
Mungkin tak perlu bertahun-tahun kuredam semua rindu

Berdiri di bibir pantai ini sendiri ku nikmati resah
Serupa bayangan mentari di permukaan air
Begitulah aku ingin menggapaimu
Memelihara pilunya merindu senyummu
Mengobati tiap tetes airmata yang terlahir dari mimpi kehangatanmu

"Benarkah tak pernah terukir indah namaku di benakmu?"


Jakarta, 7 Agustus 2010

Seteko Teh Perpisahan

Mari duduk bersamaku
Meski mungkin untuk yang terakhir kali
Kita akan menyeduh seteko teh panas
Dan menghabiskan petang bersama

Kisahkan nada-nada perjalanan kita
Mengenang indahnya cerita yang pernah kita rajut

Pada tegukan pertama, aku akan mengatakan
Aku mencintaimu
Pada tegukan kedua, akan ku kabarkan
Merindumu adalah irama yang sempurna
Dalam tegukan berikutnya, mari ceritakan
Cantiknya musim-musim yang pernah kita lalui bersama
Tegukan selanjutnya, dengarkanlah
Kita sama mengerti, jalan ini tak mungkin lagi satu

Di cangkir terakhir, tetap tersenyumlah
Karena dunia kita akan tetap berputar
Meski melalui jalan yang berbeda

Lalu, bila teh ini telah habis
Peluklah aku, katakan semua akan baik-baik saja                                                     
Lalu tolong hapus airmata di sudut mataku,
Usapkan tanganmu di kepalaku seperti biasa
dan tunjukkan kau akan lebih bahagia tanpaku di sampingmu


Jakarta, 18 Oktober 2010

Karam

Terbacakah dari mataku
Apa yang tertulis lama dalam kalbuku
Tersiratkah dalam senyumku
Betapa merindumu sesungguhnya menghangatkan

Bodohnya,
Mengapa namamu
Mengapa senyummu
Kenapa hatimu
Kenapa aku tak boleh memelukmu lebih lama

Senja ini di batas pertahananku
Ku menangisi kepergianku sendiri, dalam diam
Mengutuki sesak, meninggalkan cerita
Hingga menggelepar dalam perih dan karam


Jakarta, 18 Oktober 2010

Garis Sendu

Garis-garis bertubrukan
Memanjang..,
Patah.
Melingkar..
Berputar-putar,
Silang menyilang, memutar lagi

Garis-garis sendu
Menabrak pilu
Menggilas kelabu
Memaksa sembilu

Jadi abu..


Jakarta, 4 November 2010

Bimbing Aku

Telah sampai aku pada persimpangan jalan-Mu
Semua hal pilu ku gendongg, sebagai teman 
Ku kan terus berjalan, Tuhan.. 
Sebab ku selalu percaya, Kau mencintaiku    

Biarkan ku nikmati sepenuh nafas peristiwa ini 
Ku terima seluruh takdir-Mu 
Namun sesungguhnya, Tuhan.. 
Aku sulit mengikhlaskannya    

Bisakah kau bimbing aku  menyebrangi jurang curam ini 
Agar tak salah tebing ku pilih 
Karna sering kali, ku ingin menyerah 
Melupakan semuanya, dan lari saja          


Jakarta, 9 November 2010