Thursday, December 9, 2010

Karam

Terbacakah dari mataku
Apa yang tertulis lama dalam kalbuku
Tersiratkah dalam senyumku
Betapa merindumu sesungguhnya menghangatkan

Bodohnya,
Mengapa namamu
Mengapa senyummu
Kenapa hatimu
Kenapa aku tak boleh memelukmu lebih lama

Senja ini di batas pertahananku
Ku menangisi kepergianku sendiri, dalam diam
Mengutuki sesak, meninggalkan cerita
Hingga menggelepar dalam perih dan karam


Jakarta, 18 Oktober 2010

No comments:

Post a Comment