
Begitu bergejolak hingga dadaku perih
Aku tutup lagi, biar kau yang menggali
namun kau terus mengukir jarak, seolah menuju bukit lain
Menit demi menit aku menoleh membaca harimu
Terus begitu, mengendapkan rindu serupa candu
Sementara aku kian lelah mendepa hatimu
Mengapa tak kabarkan saja seisimu
Biar ku tahu arah mana langkah ku tuju
menantimukah, atau segera berkemas mengubur namamu
*disela-sela belajar patologi sampai konstruksi tes
9-10 November 2009
No comments:
Post a Comment